Tokoh-tokoh yang ada dalam judul itu mengingatkan pada masa kecil. Saat masih SD entah lupa itu usia keberapa, tapi setiap hari minggu selalu bersiap didepan TV untuk menyaksikan kartun itu. Dan kenyataan yang paling menakjubkan adalah, Nobita, Doraemon, Shincan dkk sampai sekarang masih ada dengan usia yang sama, tokoh yang sama dan jokes yang sama pula. Dan saya, sudah jauh meninggalkan mereka, saya sudah nyaris 25 tahun.
Doraemon yang siap sedia membantu Nobita dengan segala piranti yang keluar dari kantong ajaib dia. Dan beruntung pada saat saya kecil, saya tidak terobsesi punya sahabat kucing ajaib macam Doraemon yang siap sedia membantu saya untuk mempermudah hidup saya :p. Justru saat sudah usia nyaris 25 tahun ini, saya suka ngayal andai saja punya kantong ajaib macam Doraemon.*eh
Tapi dari Nobita saya diajarkan mengenal macam-macam jenis karakter teman, selalu ada si baik hati nan manis macam Sizuka, atau si licik macam Suneo dan Giant. Dan dari mereka saya juga belajar, kalau tidak mengerjakan PR dan malas belajar pasti jadi bego macam Nobita atau kalau males berusaha dan bergantung pada Doraemon melulu, pasti Nobita kena sial. Si suneo dan Giant yang licik itu pasti kena sial kalau mereka sudah mulai keterlaluan menjahili Nobita. Sangat sederhana, tidak perlu efek yang maha dahsyat untuk membuat saya belajar dari kartun itu.
Entah sih, sekarang apakah mereka masih dengan joke yang sederhana itu atau sudah berubah?!mungkin si Nobita dan Doraemon sudah punya account twitter, sudah tidak maen di taman lagi, tapi sudah sibuk didepan computer, psp, tv dan piranti modern lainnya?!mungkin sekarang mereka berpindah saling cela di twitter, mungkin si baling-baling bambu sudah tidak berfungsi lagi, karena Doraemon sudah punya alat baru seperti pesawat Jet berkecepatan super cepat yang bisa dikendarai untuk jarak dekat, atau mungkin alat-alat Doraemon sudah di desain lebih attraktif dan menggemaskan :p *apa sihh* dan yang pasti apapun itu, di tengah ke-hectic-an Jakarta dan keribetannya, alat Doraemon favorit saya masih tetap “PINTU KEMANA SAJA” *please baca dengan logat Doraemon yah*
Mereka tidak menjadi tua, lelucon mereka masih sama, cara berpakaian mereka juga tidak banyak berubah, cara bicara mereka juga masih sangat sederhana. banyak pertanyaan sebenarnya, kenapa ya, kartun seperti itu masih dipertahankan dengan “taste” yang sama seperti 20 tahun yang lalu?!Aku sih tidak pernah mencoba bertanya pada keponakan atau anak-anak masa kini, apakah mereka masih suka menonton DORAEMON?!apakah mereka mengidolakan DORAEMON dan takjub dengan alat-alat buatan DORAEMON? Yang pasti sekarang sudah banyak sekali tokoh-tokoh kartun bermunculan dan menjadi icon si anak-anak masa kini.
Walaupun mereka bukan benar-benar tokoh idola saya di masa kecil, tapi saya pernah menjadi penonton setia mereka setiap hari minggu. paling tidak mereka punya andil membentuk sedikit pola pikir saya. Bahwa kehidupan anak kecil itu bermain, belajar, mengerjakan PR, bertualang, berteman, bermusuhan, menangis, berinteraksi dengan alam, tertawa, melucu, dan bersikap menyebalkan kepada orang tua.
Mungkin sampai sekarang, sampai sejauh usia kita yang “setua” ini masih sama kehidupannya, masih seputar kegiatan yang saya sebut diatas, tapi mungkin kemasannya sudah jauh sangat kompleks dan terlalu banyak definisi, tidak akan sesimple kehidupan masa kecil.
Kita masih belajar, walaupun bukan belajar membaca susunan abjad lg, kita masih punya PR terkait dengan deadline segala hal dalam kehidupan yang semakin pendek saja.
Masih bermain dengan segala piranti kehidupan, atau masih bertingkah menyebalkan kepada orang tua karena selalu tidak punya jawaban pasti akan pertanyaan :”Calon kamu yang mana?”,”kapan kamu nikah”“,”Tabungan sudah berapa?”,”Kapan punya anak?” dan bagi yang belum punya kepastian, pasti akan menjawab dengan jawaban seadanya dan yang pasti bikin sebal orang tua.
Kita juga masih tetap menangis, cuma alasan kita menangis sekarang sudah sangat bermacam-macam, kalau dulu kita menangis karena sedih tidak dibelikan mainan atau tidak boleh main diluar karena harus tidur siang. Tapi sekarang, bahkan saat bahagia sekalipun kita bisa menangis, dan kalau kita masih kecil kita hanya menangis karena urusan kita sendiri, tapi sekarang kita sudah pandai menangisi orang lain. menangisi orang yang melukai kita, orang yang tidak mencintai kita, menangisi orang yang melupakan kita. Kita juga sudah pandai menangisi kebahagiaan :)
Bahkan konsep tertawapun sudah sangat kompleks, ketika masih usia 5 tahunan, saya mungkin tertawa karena saya bahagia, karena punya mainan baru, karena sedang bertamasya. tapi sekarang saat tertawa lepaspun sebenarnya kita sedang menyembunyikan kesedihan yang menggunung. Bahkan berpura-pura tertawa hanya untuk membuat orang lain merasa bahagia.
YA, dari Doraemon, Nobita, Giant dan Suneo saya belajar kesederhanaan dan kejujuran. Belajar dari mereka sama dengan belajar dari masa kecil saya. masa kecil era 80-90an, masa kecil dimana penyanyi cilik masih eksis dan berinteraksi dengan alam adalah
makanan sehari-hari bukannya kegiatan mahal yang hanya bisa dinikmati saat kita sedang outbound bahkan sekarang ada sekolah alam yang mahalnya minta ampun.Lucky me, i dont need that :D
Doraemon dkk, mungkin sampai sekarang masih berada pada masa itu, bukannya mereka tidak ingin tumbuh dewasa, tapi mereka ada sampai sekarang menjadi cerminan betapa sederhananya definisi tertawa, menangis, bermain dll dimasa itu. Sometimes we do need those kind of simple definition about life, just make sure that life could be more easier :)
Hmm romantisme masa kecil yah, bukan berarti menjadikan kita tidak mau berubah dan menjadi dewasa. in my opinion : “I just don’t want to growth old but i do want to be more wiser”